Friday, November 25, 2016

Jangan Dendam, Anakku!

Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang singa bersama tiga anaknya di hutan belantara Bukit Barisan, Sumatera. Pada suatu hari, terjadilah hal yang tidak diinginkan.

“Kalian harus merelakan kepergian ibu kalian…” Tuturnya agak keras, namun penuh rasa iba. Ketiga anaknya masih meratap histeris.

“Sena yang manis, cerdas, tapi keras kepala. Sekarang, lihatlah anak-anakmu menangis tanpa kehadiranmu di rumah kita. Begitupula suamimu ini, sungguh belum siap atas kematianmu Sena.” Air mata membanjiri pipinya, berjatuhan membasahi anak-anaknya.

Hari berganti hari terasa begitu lambat. Tidak ada kebahagiaan yang nampak, selain wajah-wajah sayu yang pucat, suara auman yang parau, dan kesedihan mendalam.

Ketiga anaknya bergantian memanggil ibu. “Ibu…, ibu…., ibu…., pulang ibu…” Ratapan Rino. Dua adiknya, Rena dan Ringgo, turut meratap keras.

Si perkasa tua itu pun terbangun karenanya. Ia dekati anaknya, “Kalian adalah anak-anak singa, berhentilah cengeng. Kalian harus kuat. Mengaumlah sekeras-kerasnya. Bangsa Singa adalah punguasa hutan ini. Dan, itu kelak adalah kalian bertiga. Kalian mengerti?”

“Iya, Ayah. Kami mengerti. Tapi, kami kangen ibu. Tanpa ibu, kami tidak bisa tidur. Tanpa ibu, kami kedinginan. Tanpa ibu, kami kesepian.” Cetusnya parau. Sesekali Rino mengusap air matanya.

“Kami janji akan jadi anak mandiri, Ayah. Makan tak perlu disuapin. Tidur sendiri. Tapi untuk hari ini, biarkanlah kami menangis Ayah. Sepuas-puasnya, agar besok saat cahaya mentari memasuki gua ini, kami akan melupakan semuanya. Memulai hidup baru dengan semangat baru.” Tutur Rena.

Malam yang dingin, rembulan mulai menampakkan dirinya. Ringgo memeluk ayahnya dengan sesegukan. “Ayah, semua ini salahku. Aku yang minta ibu pergi berburu pada sore itu. Aku pengen makan daging kijang. Kemudian ibu dimakan ular busuk itu. Hukumlah aku yang tak berguna ini…” Tangisnya kian tak terbendung.

“Tidak, Nak. Ini sudah takdir. Takdir bagi ibumu. Ini sudah keputusan penguasa jagad raya.” Jawab Singa tua itu.

“Penguasa jagad raya?” Tanya Rena, singa kecil betina itu heran. Sepertinya ia baru kali ini mendengarnya.

“Iya, Anakku.”

“Siapa namanya, Ayah?” Rena makin penasaran. Ringgo pun mulai berhenti sesegukan. Sementara Rino diam, merasa tak penting.

“Namanya Allah SWT. Dia adalah Tuhan kita, Nak. Dia yang menciptakan kita semua. Dia-lah yang menciptakan bumi dan langit beserta segala isinya. Bila Dia berkata jadilah, maka terjadilah semua keinginanNya itu. ”

“Wowww…” Ungkap Rena dan Ringgo bersamaan. Kekaguman menyelimuti jiwa mereka.

“Dia-lah yang membuat kita bisa berjalan, bernafas, berkasih sayang. Atas kebaikanNya, kita bisa hidup, bisa makan, dan bisa menikmati dunianya. Selanjutnya,…”

“Selanjutnya apa, Ayah?” Pinta Rena

“Dia akan mengazab siapa saja yang sombong, dan yang jahat. Kemudian, memberikan surga bagi siapa saja yang taat padaNya, yang pandai bersyukur, dan yang bersabar.” Tambah si singa tua itu meyakinkan.

“Jadi kita mengikhlaskan saja kematian ibu, Ayah? Ular busuk itu dibiarkan saja?” Sela Rino protes.

“Iya, Anakku. Ikhlas adalah ciri hamba Allah yang taat padaNya. Ridha dengan ketentuanNya. Ibumu dimakan ular itu, karena memang itu sudah takdirnya. Seperti halnya kita berburu rusa, kijang. Setiap rusa yang ketangkap, lalu kita makan, itu pun sudah menjadi takdirnya. Takdirnya jadi makanan kita. Jadi, kita tidak boleh balas dendam. Hanya saja…” Jelas si Ayah singa tersebut.

“Lanjut, Ayah…” Rena mendesak lagi.

“Kalian tidak boleh melewati area lembah batu tersebut. Di sana berkumpulnya para ular besar. Mereka marah kalau kita berburu di sana…” Jawab Si Ayah terbata-bata, dan berupaya keras agar air matanya tidak meleleh. Ia berusaha tegar di hadapan anak-anaknya. Ia menghilangkan catatan buruk istrinya, yakni keras kepala. Dia sebagai suami sudah mengingatkan berkali-kali agar istrinya tidak ke lembah itu.

“Kok ayah sedih?” tanya Rena.

“Nggak ada apa-apa, Nak.”

“Kalau mereka menghadang kita di tempat lain, terus gimana, Ayah?” Tanya Rino.

“Kalian harus membela diri. Kalian harus menang.”

“Boleh kita makan, Ayah?” Rino menambahkan.

“Boleh.”

__o0o__

(Ditulis oleh Baba Ali, Pakar Ketahanan Keluarga)

0 komentar:

Post a Comment