Sunday, November 13, 2016

Menulis itu Asyik dan Keren!

Betul nggak sih menulis itu asyik? Hmm, baru kali ini pertanyaan ini muncul di benak saya. Selama ini tak pernah terpikirkan, atau setidaknya melintas selayang pandang di benak. Sudah banyak menulis (artikel, essay, buku, dan skripsi, hehe) baru nyadar bahwa menulis itu mengasyikkan. Jawaban pertanyaan di atas tentu relatif, tergantung orangnya. Bagi mereka yang senang (1), dan bagi mereka yang tahu manfaat menulis (2), serta bagi mereka yang menyadari bahwa menulis itu adalah sangat penting (3) akan mengatakan bahwa menulis itu asyik.

Royalti pertama saya menulis di koran adalah 100 ribu rupiah, lumayanlah untuk anak seusia SMP seketika itu, tahun 2001. Setelah bertahun-tahun vakum, aktivitas menulis kembali menggebu setelah berjumpa dengan para aktivis FLP, Forum Lingkar Pena. Tiga bulan bergabung di FLP, tulisan saya kembali bermunculan di surat kabar. Royalti pertama 300 ribu rupiah, lumayan buat mahasiswa tahun pertama. Dan, hingga saat ini makin cinta aja deh dengan dunia tulis menulis.Menulis itu memang asyik, walau tak dibayar jutaan perbulan, tapi kepuasaan hati tak dapat dihargai dengan duit jutaan. Kepuasan itu datang menghiasi jiwa ketika tulisan kita terbit, atau di baca banyak orang, banyak kritikan dan sanggahan, banyak pujian, atau sekedar ucapan selamat. Dimaki-maki saat seminar atau bedah buku malah jadi seru-seruan tersendiri. Sejatinya kepuasaan itu akan dengan sendirinya naik kelas menjadi kebahagiaan. Kebahagiaan itu tak terelakkan ketika banyak orang (penggemar.hehe) mendapatkan pencerahan, inspirasi, dan termotivasi. Kebahagiaan itu bukan dibuat-buat, tapi dari Sang Illahi.

Kita semua mahfum bahwa setiap kata yang tertorehkan dengan niat kebaikan, setiap kalimat yang tersusun yang diawali dengan bismillah, dan setiap paragrap yang bersumber dari hati akan menyentuh sekar-sekar hati. Semua itu menjadi ibadah, amal kebaikan. Dan, amal kebaikan itu adalah investasi seorang penulis. Di dunia ia mendapatkan berkahnya, di antaranya kebahagiaan, kemudahan, dan kelapangan hidup. Maka di akhirat , insya Allah Tuhan akan mengganti dengan surga-Nya yang luasnya seluas langit dan bumi. Di dalamnya, hanya berisikan kenikmatan.Menulis itu asyik sekali. Lihatlah Buya Hamka, ruang sempit, pengap, dan dingin tak menjadi masalah. Penjara justru menambah keasyikan beliau dalam menghasilkan karya-karya besar, di antaranya Tafsir Al Azhar. Ketebalan karya beliau lebih tinggi dari postur saya, 170-an centi meter. Komplit 30 Juz. Berkat keasyikan itulah Buya Hamka tak pernah mati. Walau jasadnya sudah tiada. Hampir setiap hari karya-karya beliau menjadi bahan diskusi, seminar, dan bahan referensi Tugas Akhir mahasiswa di berbagai kampus islam dan umum. Wabil khusus, kampus Al Azhar University, Kairo. Luar biasa!

Menulis itu memang mengasyikkan. Dr Aid Al Qorni, seorang ulama termasyur dari arab saudi adalah seorang penulis produktif. Tak kenal tempat, baik di rumah, kampus, penjara, dan bahkan perjalanan hendak bedah buku ke suatu kota beliau senantiasa menulis. Menulis buku baru. Kita menikmati kehebatan karya-karya beliau, di antaranya La Tahzan. Buku La Tahzan, beliau tulis selama dalam penjara. Setelah terbit, buku tersebut dibredel, dilarang beredar di Arab Saudi. Dan kini, buku La Tahzan diburu oleh banyak orang di Timur Tengah hingga ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Menulis itu memang asyik. Mari kita lihat Taufik Ismail, Sastrawan Senior Indonesia, peraih 3 gelar doktor kesusasteraan. Beliau yang lulusan sarjana kedokteran hewan ini sangat produktif dalam menulis, terutama puisi. Seolah-olah dimanapun dan kapanpun, bagi beliau adalah melahirkan puisi-puisi baru. Lihatlah karya beliau berjejeran di dunia kesusasteraan.

Amati pulalah, penulis senior nan produktif ini, Ahmad Tohari. 15 tahun mengandung sastra, menari dalam singgasana khayalan, dan bertapa di gubuk kesastraan sehingga lahirlah buku perdana beliau yang meledak dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Itulah buku Ronggeng Dukuh Paruk. Saya kenal betul, penulis beken yang satu ini. Menyimpulkan dari diskusi panjang saya dengan beliau, “Kecintaan akan sastra hampir-hampir saja melupakan beliau akan nikmatnya pacaran bersama isteri.” Hufss, bukan nyindir loh ya. Hehe.

Menulis itu memang asyik. Asyiknya menulis membuat Sayid Qutb melahirkan puluhan karya dari jeruji besi, Imam Hasan Al Banna dengan kumpulan nasehat-nasehatnya (Risalah Pergerakan), Ibnu Taimiyah dengan salah satu karya fenomenalnya Al ‘Aqidah Al Wasithiah, Imam Maliki dengan kitab fenomenalnya Al Muwattha’, Syekh Yusuf Qordawi dengan buku Fiqh Dakwah-nya, dan ratusan ulama dan penulis besar lainnya.Kawan, ambillah bagianmu dalam sejarah kehidupan ini, yakni dengan menulis.

( Ali Margosim Chaniago, Penulis Produktif, dan Spritual Motivator)


0 komentar:

Post a Comment