Banyak orang mengatakan bahwa hubungan seks itu tidak perlu dipelajari, tidak perlu dibesar-besarkan, mengalir saja seperti air, nanti kalau sudah menikah bisa sendiri. Banyak pula yang beranggapan, seks itu siapa saja bisa. Ayam saja nggak pernah belajar—nggak pernah diajari, toh, juga bisa, apalagi manusia.
Ya iya bisa, tapi bisanya yang bagaimana. Sudahkah sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya? Adabnya sudah benar apa belum? Seks yang dilakukan sehat apa tidak? Agar seks berkualitas apa yang dilakukan? Hal ini perlu dipelajari.
Ada banyak keluhan dari pasangan suami istri tentang hubungan seks mereka. Mulai dari masalah sepele, hingga masalah krusial. Semisal, istri tidak nyaman dengan kebiasaan suami yang aneh-aneh saat berjimak, istri yang frigit, seks saat haid, hingga boneka seks. Padahal mereka orang yang berpendidikan tinggi. Mereka berilmu, berwawasan luas, dan terbuka. Akhirnya, mereka pun belajar guna memahami --hubungan seks yang benar sesuai tuntunan Islam, seks berkualitas, dan sehat.
Lalu, bagaimana dengan pasutri yang kurang melek pendidikan? Apalagi mereka yang punya anggapan seks sebagai sesuatu yang gampangan, nggak penting dipelajari? Betapa besarnya bahaya yang tengah mengintai dan dosa yang akan dipikul. Akibatnya mereka berbuat hal-hal yang merusak dan menghinakan diri sendiri. Misal, menyetubuhi istri saat haid, penetrasi lewat dubur, menelan sperma, malam pertama kok nggak ada darahnya?—akhirnya cerai, minum obat kuat diluar kontrol akhirnya kejang-kejang—ada juga yang tutup usia, dan lainnya.
Akibat lainnya, hubungan seks monoton sepanjang hidup. Malam pertama gayanya standar, sudah kakek nenek masih saja bergaya standar. Kasian kan?
Seks merupakan ibadah, tergolong ibadah ghairu mahdhoh. Ibadah yang tidak hanya terhubung dengan Allah tapi juga bersangkutan dengan ciptaan-Nya. Dalam hal ini, ada ruang kreativitas padanya. Manusia dibenarkan secara syariat untuk melakukan improvisasi, modifikasi, inovasi dalam mencapai tujuan. Sehingga seks merupakan aktivitas bebas terbatas. Bebas berkreasi, terbatas selama tidak melanggar etika dan hukum yang telah digariskan Al Qur’an dan Sunnah Nabi.
( Sumber tulisan: Baba Ali Pakar Ketahanan Keluarga, penulis buku "Harmonis di dunia, bersama di surga")







0 komentar:
Post a Comment