Monday, November 14, 2016

Menulis tidak perlu Bakat


Saya salah seorang pembicara (Kok Pembicara? Ya iya dong. Pembicara: orang yang berbicara. Kalau dibilang penonton, justru salah besar. Sebab saya nggak suka nontonnya. Haha) yang tidak suka dengan tayangan ‘Indonesia xxxx’ di sebuah stasiun TV swasta.

Acaranya apalagi kalau bukan lomba tarik suara (nyanyi maksud saya.Haha) dan goyang pinggul (kalau di twitter pada bilang begini, maksud loe?Haha. Nggak perlu saya jelasin. Anda sudah paham sendiri).

Sebetulnya apa sih itu BAKAT? Bakat adalah nilai plus yang anda bawa sejak lahir. Ada add value yang dibawa nyembul ke dunia ini. Bakat itu karunia Tuhan, yang wajib disyukuri. Semisal, berbakat jadi penyanyi karena suaranya bagus. Berbakat jadi binaragawan karena tubuhnya besar dan kekar. Berbakat jadi guru matematika karena gampang menghitung. Berbakat jadi atlet lari karena tubuhnya kecil dan sigap.

Di mata saya, semua manusia itu terlahir membawa sebatang besi. Ada yang besinya panjang dan lurus, panjang dan bengkok, pendek dan pipih, dan bahkan ada yang bulat besar, dan lainnya.

    Semua besi itu bisa digunakan. Tergantung mau dipakai untuk apa dulu. Besi yang tumpul, bulat dan besar tentu cocoknya dipakai untuk palu. Dan, sesat kalau digunakan buat pedang. Semua harus pada tupoksi masing-masing.
    Jangan terpaku pada bakat. Sebab bakat saja tidak cukup mengantarkan anda menjadi orang yang sukses. bakat saja tidak menjadi jaminan bahwa anda akan menjadi seorang penulis besar dan melegenda. Saya percaya, bahwa bakat hanya 1%  pengaruhnya bagi kesuksesan finansial dan karir seseorang. Tapi 99%-nya lagi ditentukan oleh perspiration. Keringat anda. Kerja keras anda.
    Ya, seperti halnya besi yang anda punya itu. Bila si besi dibiarkan saja, maka nilainya tetaplah seharga sebatang besi. Namun, bila anda mengasahnya, maka ia akan menjadi seperti halnya yang anda inginkan. Besi anda bulat, maka pas jadi lempengan mesin. Besi anda panjang dan runcing, maka jadilah pedang yang tajam. Asahlah besi anda, asahlah bakat anda.
    Tidak punya bakat? Janganlah bersedih. Bersedih hanya bikin calon mertua bimbang memilih anda jadi menantunya. Eits…jangan bantah dulu. Percayalah sama saya. Haha. Masbro, sekali lagi saya cubit loe bahwa bakat itu bisa direkayasa. Saya, Thomas Alfa Edison, Anthony Robbin, Robert Tyosaki, Oprah Winfrey, David Beckham setuju bahwa bakat itu bisa dibuat. Jadi, tataplah saya, dan bilang ‘Oh ya, Oke, oke, saya siap!’
     Yap, yang penting ada KEMAUAN. Orang barat bilang, “There is a will, there is a way.” Maher Zain bilang, “Insyaallah, ada jalannya.” Setuju! Dimana ada kemauan, di situ ada jalannya.” Sekarang pertanyaannya, kamu mau nggak melebihi orang yang berbakat, setidaknya lebih baik dari peserta Indonesia Mencari Bakat? Ayo ngacung!
    Menjadi seorang penulis, nggak butuh bakat. Sekali lagi, tidak butuh bakat. 99% kebutuhan seorang penulis adalah 2M. 2 Milyar? Besar amat modal jadi penulis?Haha.Ya, memang besar. Itulah 2M: Membaca, Menulis. Setiap hari kebutuhan seorang penulis adalah membaca dan menulis, membaca dan menulis, membaca dan menulis. Itu saja.
    99,999% Penulis besar yang saya kenal di muka bumi ini mulai dari Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyium Al Jauziyah (penulis ratusan buku fiqh, hadist, kesehatan), Syaikh Yusuf Qordhawi (penulis ratusan buku fiqh, hadist) Leo Tolstoy (penulis novelo Anna Karenina), Buya Hamka (penulis novel “Dibawah Lindungan Ka’bah), JK Rowling (Harry Potter), Ibnu Khaldun, Dr Taufik El Hakim (sastrawan mesir), Abdul Moes (Salah Asuhan), dan lainnya, adalah para eksekutor 2M. Mereka semua menydari bahwa membaca adalah asupan gizi dari sebuah tulisan, sementara menulis adalah aktivitasnya.
    Mulai hari ini, nggak perlu percaya dengan bakat. Percayalah pada kemauan dan kegigihan anda untuk menjadi yang kita inginkan yakni PENULIS.
    Selamat tinggal, bakat.

( Ditulis oleh Ali Margosim, Penulis buku "Mengendarai Angin", Trainer)

0 komentar:

Post a Comment