Tuesday, November 15, 2016

Menulis tidak Tergantung Mood

Ngomong-ngomong tentang ‘mood’, ini bahasa spesialnya kaum Laila Majnun, atau juliet. Masalahnya kaum Romeo biasanya nggak pernah kenal‘mood’. Ya iyalah, masalahnya kaum lelaki lebih banyak mengandalkan akal (otak), sementara kaum hawa banyak berselancar di ranah mood (perasaan).

Penyebab nggak mood ini banyak. Cemburu sama suami, minder  lagi jerawatan, mikirin gosip, rumah berantakan, cucian setumpuk, ketombean, malas, SMS belum dibalas-balas, sudah 1 minggu belum dipanggil sayang sama suami (Ups! Keceplosan). Pokoknya ada sajalah alasannya.

“Gimana mau nulis, orang lagi nggak mood. Kebayang nggak sih, bla…bla…bla…”

    Mood itu pada dasarnya penyakit dari seorang penulis. Saya masih ingat rumus persaudaraan M-M. Saudara kembarnya mood adalah malas. Lagi nggak mood nih, berarti lagi malas. Ah malas, pertanda lagi nggak mood. Sudahlah, anda nggak usah bela-belain diri. Sepakat saja sama saya. Hahaha.

    Penyakit M-M ini biasanya bisa menyerang siapa saja. Membolak-balik bukunya “Man From Mars, Woman From Venus”, tulis………..Ada keterbalikan kecenderungan manusia dewasa ini. Lelaki mulai menjajaki area feminisme, sementara wanita mulai terlihat maskulinnya. Just sample nih ya. David Beckham di beberapa penampilannya menunjukan kefeminisme-annya. Di layar kaca TV anda, mulai dari presenter hingga pelawak (katanya seniman loh, Bro!) khusus lelaki yang berpenampilan kewanitaan. Lebih-lebih lagi, meniru style wanita. Lelaki yang kewanitaan banget. Bikin bulu kuduk merinding melihat ulahnya. Ah, sepertinya dunia sudah mulai menua.

    Walaupun begitu 97% penderita penyakit M-M ini terdeteksi sebagai berikut: baru berniat jadi penulis, penulis pemula,  penulis amatiran, tengah peralihan profesi dari penulis ke yang lain.

    Para penulis besar, penulis melegenda, adalah mereka yang tidak kenal kata ‘mood’. Sehingga sepanjang harinya hanyalah fresh dan semangat terus. Mereka tidak kenal malas, lelah, bosan, apalagi putus asa.

    Menyikapi hal ini, manusia merespon profesi/pekerjaan itu pada umumnya dalam 3 tingkatan. Tingkatan pertama: Kewajiban. Menulis terasa sebuah kewajiban pasti memberatkan. Buktikan saja! Lha, inilah yang dirasakan oleh mereka yang terserang sindrom M-M. Malas berlatih, ingin segera ada hasil (terburu-buru), nggak kuat berproses, nggak sabar. Percayalah, hasilnya pasti mendekati NOL BESAR.

    Tingkatan kedua: Kebutuhan. Menulis menjadi kebutuhan terasa lebih ringan, enteng, dan memuaskan. Yang namanya hanya kebutuhan, kebanyakan orang hanya berbuat sesuai kebutuhan. Bila kebutuhan sudah terpenuhi, ya sudah. Zona nyaman. Menulis bila ada butuhnya. Butuh duit, ya nulis. Ada proyek, nulis lagi.

    Tingkatan ketiga: Kenikmatan. Seperti halnya menikah, banyak nikmatnya. Buktikan saja!Hahaha. kembali ke kenikmatan. Ini merupakan ktingkatan tertinggi. Orang yang menulis bukan lagi karena sebuah kewajiban. Bukan karena kebutuhan. Tapi, menulis menjadi darah daging hidupnya. Menulis sudah menjadi Jantung dan paru-parunya. Hujan panas, badai halilintar, gelombang dan pasang, sehat dan sakit, sudah tua, lapang maupun sempit, ia tetap saja menulis. Berhenti menulis berarti mati.

    Dalam buku “27 Keajaiban Menulis” yang insyaallah segera terbit, dimuat bahwa menulis itu adalah terapi. Menulis adalah obat. Menulis itu menyehatkan. Justeru itu, bila anda merasa nggak mood, maka menulislah. Lagi galau? Menulislah. Lagi stress? Menulislah. Lagi sakit? Menulislah.


(Ditulis oleh Ali Margosim, Penulis, Blogger, dan Trainer)

0 komentar:

Post a Comment