Thursday, November 17, 2016

Rahasia Bisnis Rasulullah SAW



Dalam bisnis kita mengenal setidaknya dua hal makro, yakni produk dan penawaran. Ada produk yang dihasilkan dari sebuah pabrik/industri, kemudian produk tersebut dipasarkan dengan melakukan berbagai macam sistem penawaran oleh tim yang dibentuk. Itu sudah lazim. Dan, inilah yang selalu diterapkan oleh para pebisnis barat, yang terkadang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan profit sebesar-besarnya. Disini kita menangkap core point yakni profit oriented. Saudara tentu masih ingat dengan pelajaran ekonomi ketika Sekolah Menengah Pertama. Tertulis, “Prinsip Ekonomi adalah dengan modal yang sekecil-kecilnya menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya.” Inilah prinsip ekonomi barat yang berorientasi keuntungan, nggak penting cara/sistemnya benar atau salah, nggak penting orang suka atau tidak, nggak penting orang untung atau rugi, yang terpenting adalah meraup keuntungan sebesar-besarnya.

Akibat dari mindset yang buruk ini, anda lihat begitu banyak kerusakan yang terjadi akibat sampah pikiran ini. Demi meraup untung besar, yahudi dan kroninya mengembangkan bisnis kasino di LA, bisnis judi di Las Vegas, bisnis porno dan seks (prostitusi) yang merambah ke negara-negara berkembang (vcd porno, website porno, rumah bordir, dll), iklan-iklan TV yang mengumbar aurat dan pesan-pesan yang menyesatkan, bisnis perfilman yang menggilas etika dan agama, industri musik dengan boyband-girlband, perdagangan wanita dan anak-anak, model pakaian yang tidak layak pakai, eksploitasi tambang di Kalimantan dan Papua tanpa memperhatikan AMDAL, bakso babi, daging babi di berbagai makanan - obat dan kosmetik, merebaknya barang-barang palsu, dan lain-lain.

Berbeda halnya dengan Rasulullah SAW. Bagi beliau bisnis itu adalah sebagai berikut:
Pertama, Bisnis adalah ibadah. Setiap kegiatan transaksi jual beli yang beliau lakukan bertujuan ibadah. Misi ibadah inilah yang membuat beliau memperlakukan konsumennya dengan baik, menyenangkan, sopan, santun, murah senyum, jujur, dan lebih cenderung sedikit mengambil untung.

Kedua, bisnis adalah saling menguntungkan. Beliau sangat menguasai kondisi kultural setiap pasar yang beliau sambangi. Mulai dari pasar Dumatul Jandal, Mushaqqar, Suhar, Daba, Maharah, Aden, San’a, Rabiyah, Ukaz, Dzul Majaz, Mina, Nazat, Hijr. Dari ketiga belas pasar internasional tersebut beliau memahami daya beli masyarakatnya, kebiasaan masyarakatnya, perilaku para pedagangnya, hingga peta perekonomian masyarakat yang akan datang. Keterkaitannya adalah beliau tidak semena-mena berperilaku sebagai penguasa sebuah komoditi atau banyak komoditas barang, walau beliau punya kesempatan untuk melakukan praktek monopoli atau kartel. Beliau memperhatikan pedagang yang lain, agar tetap bisa eksis dan untung. Beliau menjadikan bisnis sebagai sarana ukhuwah. Beliau juga tidak melambungkan harga barang ketika kelangkaan barang terjadi, dan satu-satunya yang ready stock adalah beliau. Dengan metode mulia ini, hampir semua pedagang di Jazirah Arab mengenal beliau sebagai seorang sosok yang mulia, terpercaya, dan suci. Langkah ini jualah yang menakhlukan hati Abu bakar, Umar dan Usman dan para sahabat lainnya sebelum memeluk islam. Subhanallah, betapa mulianya beliau, Rasulullah kita.
Allahu akbar! Allahu akbar!! Allahu akbar!!! 

Ketiga, bisnis bukan hanya transaksi barang dan jasa. Bagi Muhammad muda di kala itu, bisnis itu bermakna terlalu sempit kalau hanya diartikan sebagai transaksi barang dan jasa. Menurut beliau, bisnis adalah transaksi kebaikan, kebenaran, amar makhruf dan nahi munkar, dan komoditi. Hal ini terlihat dari kejujuran beliau dalam menimbang, menyampaikan kualitas barang yang sesungguhnya, suka berterima kasih, senantiasa mendo’akan pembeli dan barang yang dibeli semoga diberkahi Allah SWT. Walau orang arab seketika itu sudah mengenal Allah, terbukti nama ayah beliau sendiri adalah Abdullah (hamba Allah), tapi masyarakat jahiliyah justeru menyembah Latta, dan Uzza. Berhala-berhala yang mereka anggap sebagai Tuhan. Rasulullah dan isterinya khadijah binti khuwailid yang bersih dari penyembahan berhala telah memahami bahwa Tuhan itu adalah Allah, bukan berhala.

Para pembawa al islam ke berbagai negara semenjak abad ke VIII, termasuk ke Indonesia mempraktikan apa yang telah dicontohkan Rasulullah SAW selama berprofesi sebagai pedagang. Para pedagang yang sekaligus ulama tersebut menjadikan pasar sebagai core zone dakwah mereka. Mereka berdagang seperti halnya Rasulullah berdagang. Penuh dengan kejujuran, harga lebih murah, ramah, sopan dan santun, pemurah, sholeh, murah senyum, dan sikap-sikap terpuji lainnya yang membuat masyarakat di berbagai belahan dunia kagum dan akhirnya memilih masuk islam.

Allahu akbar! Allahu akbar!! Allahu akbar!!! 


Saudaraku, dari penjelasan panjang diatas mari kita simpulkan bahwa Rasulullah setidaknya memiliki 2 hal strategi dalam berbisnis:
Pertama, membangun kredibilitas yang tangguh. Kredibilitas yang tangguh itu adalah kejujuran (honesty), akhlak yang baik (good attitude), kemampuan berkomunikasi yang handal (Good Comunication Skill), dan soft skill lainnya.
Kedua, cakap dalam memuaskan. Rasulullah SAW memahami bahwa keseriusan seorang pedagang dalam melayani mitranya berbanding lurus dengan tingkat kepuasan yang didapatkan si pembeli. Beliau menyampaikan tentang jasa dan produknya dengan baik dan benar, menyajikan produk terbaik, memperlakukan mitranya layaknya seorang sahabat, tidak sungkan meminta maaf bila terdapat kekhilafan, dan suka berterima kasih. Wallahu alam bisshawab!    


(Ditulis oleh Ali Margosim, Penulis, Praktisi bisnis, 20 Maret 2013)

0 komentar:

Post a Comment