Dalam
bisnis kita mengenal setidaknya dua hal makro, yakni produk dan penawaran. Ada
produk yang dihasilkan dari sebuah pabrik/industri, kemudian produk tersebut
dipasarkan dengan melakukan berbagai macam sistem penawaran oleh tim yang
dibentuk. Itu sudah lazim. Dan, inilah yang selalu diterapkan oleh para
pebisnis barat, yang terkadang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan
profit sebesar-besarnya. Disini kita menangkap core point yakni profit
oriented. Saudara tentu masih ingat dengan pelajaran ekonomi ketika Sekolah
Menengah Pertama. Tertulis, “Prinsip Ekonomi adalah dengan modal yang
sekecil-kecilnya menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya.” Inilah prinsip
ekonomi barat yang berorientasi keuntungan, nggak penting cara/sistemnya benar
atau salah, nggak penting orang suka atau tidak, nggak penting orang untung
atau rugi, yang terpenting adalah meraup keuntungan sebesar-besarnya.
Akibat
dari mindset yang buruk ini, anda
lihat begitu banyak kerusakan yang terjadi akibat sampah pikiran ini. Demi
meraup untung besar, yahudi dan kroninya mengembangkan bisnis kasino di LA,
bisnis judi di Las Vegas, bisnis porno dan seks (prostitusi) yang merambah ke
negara-negara berkembang (vcd porno, website porno, rumah bordir, dll),
iklan-iklan TV yang mengumbar aurat dan pesan-pesan yang menyesatkan, bisnis
perfilman yang menggilas etika dan agama, industri musik dengan
boyband-girlband, perdagangan wanita dan anak-anak, model pakaian yang tidak
layak pakai, eksploitasi tambang di Kalimantan dan Papua tanpa memperhatikan
AMDAL, bakso babi, daging babi di berbagai makanan - obat dan kosmetik,
merebaknya barang-barang palsu, dan lain-lain.
Berbeda
halnya dengan Rasulullah SAW. Bagi beliau bisnis itu adalah sebagai berikut:
Pertama,
Bisnis adalah ibadah. Setiap
kegiatan transaksi jual beli yang beliau lakukan bertujuan ibadah. Misi ibadah
inilah yang membuat beliau memperlakukan konsumennya dengan baik, menyenangkan,
sopan, santun, murah senyum, jujur, dan lebih cenderung sedikit mengambil
untung.
Kedua,
bisnis adalah saling menguntungkan. Beliau
sangat menguasai kondisi kultural setiap pasar yang beliau sambangi. Mulai dari
pasar Dumatul Jandal, Mushaqqar, Suhar, Daba, Maharah, Aden, San’a, Rabiyah,
Ukaz, Dzul Majaz, Mina, Nazat, Hijr. Dari ketiga belas pasar internasional
tersebut beliau memahami daya beli masyarakatnya, kebiasaan masyarakatnya,
perilaku para pedagangnya, hingga peta perekonomian masyarakat yang akan
datang. Keterkaitannya adalah beliau tidak semena-mena berperilaku sebagai
penguasa sebuah komoditi atau banyak komoditas barang, walau beliau punya
kesempatan untuk melakukan praktek monopoli atau kartel. Beliau memperhatikan
pedagang yang lain, agar tetap bisa eksis dan untung. Beliau menjadikan bisnis
sebagai sarana ukhuwah. Beliau juga tidak melambungkan harga barang ketika
kelangkaan barang terjadi, dan satu-satunya yang ready stock adalah beliau. Dengan metode mulia ini, hampir semua
pedagang di Jazirah Arab mengenal beliau sebagai seorang sosok yang mulia,
terpercaya, dan suci. Langkah ini jualah yang menakhlukan hati Abu bakar, Umar
dan Usman dan para sahabat lainnya sebelum memeluk islam. Subhanallah, betapa
mulianya beliau, Rasulullah kita.
Allahu akbar! Allahu
akbar!! Allahu akbar!!!
Ketiga,
bisnis bukan hanya transaksi barang dan
jasa. Bagi Muhammad muda di kala itu, bisnis itu bermakna terlalu sempit
kalau hanya diartikan sebagai transaksi barang dan jasa. Menurut beliau, bisnis
adalah transaksi kebaikan, kebenaran, amar makhruf dan nahi munkar, dan komoditi.
Hal ini terlihat dari kejujuran beliau dalam menimbang, menyampaikan kualitas
barang yang sesungguhnya, suka berterima kasih, senantiasa mendo’akan pembeli
dan barang yang dibeli semoga diberkahi Allah SWT. Walau orang arab seketika
itu sudah mengenal Allah, terbukti nama ayah beliau sendiri adalah Abdullah
(hamba Allah), tapi masyarakat jahiliyah justeru menyembah Latta, dan Uzza.
Berhala-berhala yang mereka anggap sebagai Tuhan. Rasulullah dan isterinya
khadijah binti khuwailid yang bersih dari penyembahan berhala telah memahami
bahwa Tuhan itu adalah Allah, bukan berhala.
Para
pembawa al islam ke berbagai negara semenjak abad ke VIII, termasuk ke
Indonesia mempraktikan apa yang telah dicontohkan Rasulullah SAW selama
berprofesi sebagai pedagang. Para pedagang yang sekaligus ulama tersebut
menjadikan pasar sebagai core zone
dakwah mereka. Mereka berdagang seperti halnya Rasulullah berdagang. Penuh
dengan kejujuran, harga lebih murah, ramah, sopan dan santun, pemurah, sholeh,
murah senyum, dan sikap-sikap terpuji lainnya yang membuat masyarakat di
berbagai belahan dunia kagum dan akhirnya memilih masuk islam.
Allahu akbar! Allahu
akbar!! Allahu akbar!!!
Saudaraku,
dari penjelasan panjang diatas mari kita simpulkan bahwa Rasulullah setidaknya
memiliki 2 hal strategi dalam berbisnis:
Pertama,
membangun kredibilitas yang tangguh.
Kredibilitas yang tangguh itu adalah kejujuran (honesty), akhlak yang baik (good
attitude), kemampuan berkomunikasi yang handal (Good Comunication Skill), dan soft
skill lainnya.
Kedua,
cakap dalam memuaskan. Rasulullah
SAW memahami bahwa keseriusan seorang pedagang dalam melayani mitranya
berbanding lurus dengan tingkat kepuasan yang didapatkan si pembeli. Beliau
menyampaikan tentang jasa dan produknya dengan baik dan benar, menyajikan
produk terbaik, memperlakukan mitranya layaknya seorang sahabat, tidak sungkan
meminta maaf bila terdapat kekhilafan, dan suka berterima kasih. Wallahu alam bisshawab!
(Ditulis oleh Ali Margosim, Penulis, Praktisi bisnis, 20 Maret 2013)








0 komentar:
Post a Comment