Tuesday, August 1, 2017

11 WASIAT TERLARANG KELUARGA HARMONIS

11 Wasiat terlarang dalam mewujudkan keluarga harmonis yang pernah disampaikan dalam berbagai seminar oleh Praktisi Ketahanan Keluarga, Baba Ali M.ChN, adalah sebagai berikut:


1]    “Siapa yang melayani suaminya sepenuh hati, sepanjang hayatnya ia terpuji.”


2]    “Siapa yang mendidik istrinya dengan uang, kelak tua ia terbuang. Siapa yang mendidik istrinya dengan agama, sampai tua ia bahagia.”


3]    “Lelaki yang menangis karena sikapmu, pertanda dia tulus mencintaimu. Tapi, lelaki yang menangis karena dosa, dia adalah imam yang baik untukmu.”


4]    “Mungkin ada begitu banyak kekurangan pasanganmu, yang akhirnya membuatmu berpikir ulang untuk menggantinya dengan orang yang lebih baik. Tapi sudahkah engkau pikirkan matang-matang? Di luar sana, ada begitu banyak orang yang lebih baik dari dirimu, tapi dia tetap memilihmu. Di luar sana, ada begitu banyak orang yang juga menginginkan pasangan seperti pasanganmu. Oleh karena itu, mengganti bukanlah solusi. Keputusan yang tepat adalah kamu dan kekasihmu senantiasa belajar memperbaiki diri.”


5]    “Bila akhirnya kamu tidak bersama dengan orang yang sering engkau sebut namanya dalam doamu, mungkin kamu akan dibersamakan dengan orang yang diam-diam sering menyebut namamu dalam doanya.”


6]     “Setiap orang memimpikan pasangan yang sempurna. Tapi jangan lupa, bahwa sesungguhnya Allah menciptakan kalian berdua untuk saling menyempurnakan.”


7]     “Jangan meludahi sumur yang airnya engkau minum. Jangan menyakiti wanita yang mengabdikan dirinya padamu, melahirkan dan merawat anak-anakmu. Didiklah ia dengan agama, sayangilah ia dengan cinta, buatlah ia bahagia.”


8]     “Suami yang baik lebih tahu cara memikat hati istrinya daripada menyakitinya. Istri yang baik lebih memahami isi hati suami daripada isi dompetnya.”


9]     “Jangan menolak laki-laki baik yang datang melamarmu karena kurang mapan, sebab kalau sudah mapan belum tentu ia memilihmu.”


10]    “Jika wanita menutup aurat, lelaki menikahinya karena iman. Namun, bila ia mengumbar aurat, lelaki mencintainya karena syahwat. Iman berbuah aman. Syahwat berbuah gawat.”


11]    “Wahai para suami, Jangan kelu mengatakan rindu. Jangan terbata menyatakan cinta. Walau usia pernikahan tak lagi muda, tetaplah buat hatinya mengangkasa. Seperti dulu di tahun-tahun pertama. Saat cinta merekah penuh berkah, beraduk sejuta rasa.Muda mesrah. Tua bahagia.”

Saturday, July 29, 2017

HAL YANG TAK BOLEH DILUPAKAN ORANGTUA DALAM MENDIDIK ANAK!



Semenjak sang suami meninggal, Fatimah binti Ubaidillah Azdiyah tak punya pilihan selain membesarkan anak lelaki semata wayangnya seorang diri. Mengambil upahan dan membuat makanan ringan, untuk bertahan hidup. 

Suatu hari, si anak bercerita bahwa ia baru saja menikmati segelas susu yang dikasih oleh tetangganya. Tetangganya itu berprofesi sebagai orang pintar (dukun). Sang ibu langsung menggiring anaknya ke kamar mandi, lalu memasukan jarinya ke mulut sang anak, hingga si anak muntah, dan keluarlah semua susu yang telah diminum tersebut. Fatimah sangat ketat dalam menjaga kehalalan setiap makanan yang masuk ke perut anaknya itu. Ia rela kelaparan berhari-hari daripada memakan makanan haram. Ia rela berpakaian lusuh ketimbang mengenakan pakaian yang dibeli dengan uang haram. Begitulah prinsip hidup yang telah mendarah mendaging dalam jiwa dan raganya. Final, sudah tak bisa ditawar-tawar.

Seiring berjalannya waktu, anak itu tumbuh menjadi anak yang hebat dan shalih. Usia sembilan tahun hafal Qur’an 30 Juz. Usia 11 tahun hafal puluhan ribu hadist. Usia 15 tahun sudah diizinkan memberikan fatwa di Masjidil Haram. Fatwanya dipakai oleh mayoritas kaum muslimin sedunia. Siapakah anak kecil itu? Dia adalah Imam Syafii rahimahullah ta’ala, Si anak yang lahir dan tumbuh dari rezeki yang halal.

Kisah nyata ini semestinya menjadi ibroh (pelajaran) penting bagi kita sebagai orangtua yang merindukan anak shalih-shalihah. Anak shalih shalihah hadir ditengah-tengah kita bukanlah produk sim salabim. Ia ada di tengah-tengah kita, sebab ikhtiar besar kita sebagai orangtua. Ikhtiar besar itu berupa memilih calon pasangan yang shalih shalihah, menikah dengan proses yang syar’iyah, makanan keluarga yang jelas halalnya, pendidikan keluarga yang berorientasi akhirat, hingga keteladanan dari orangtua.

Mari kita tela’ah satu bagian saja, yakni makanan keluarga yang jelas halalnya. Seorang suami harus mengerti bahwa nafkah yang diberikan kepada istrinya wajib yang halal saja. Seorang istri pun perlu tahu bahwa nafkah yang diberikan suaminya benar-benar halal, tidak bercampur aduk dengan yang haram. Atau masih diragukan kehalalannya, alias syubhat. Hal ini perlu dilakukan, jika merindukan anak yang shalih shalihah. 

Kenapa punya anak harus shalih shalihah? Sebab anak yang shalih shalihah adalah investasi terbaik dunia akhirat. Di dunia, orangtuanya dihormati, dan dicintai. Kelak di akhirat, ia menjadi penolong bagi orangtua. Do’a anak shalih shalihah, sedekahnya, dan semua kebaikannya juga mengalir untuk orangtuanya. 

Adalah lucu, tatkala kita sebagai orangtua menginginkan anak-anak kelak tumbuh menjadi anak-anak yang shalih sementara kita tak jarang menyuapinya dengan makanan yang haram atau syubhat. Baju sekolahnya bisa jadi dari uang haram atau campursari (halal haram hantam), biaya sekolahnya dari rezeki yang tidak halal. 

Seringkali kita menemukan orangtua yang menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren, tetapi sang anak tetap begundal. Kabur dari pondok. Terlibat tawuran. Mengkonsumsi narkoba. Memicu berbagai keributan. Menyusahkan para kiyai. Ada juga yang tetap lulus ponpes dengan nilai seadanya, namun tetap tidak menjadi sosok yang diharapkan orangtua. Bahkan yang terparah lagi, setamat dari pondok jadi maling (koruptor), pezina, dan sampah masyarakat dalam bentuk yang lain. 

Kenapa hal demikian terjadi? Sebab si santri dibiayai dengan uang haram. Tidak ada keberkahan di dalamnya. Sekolahkan anak ke ponpes itu sangat bagus. Bahkan kalau bisa, para orangtua berbondong-bondong memondokan anaknya, agar pondasi agama si anak kuat. Nah agar hasilnya juga bagus, maka orangtua juga berkewajiban membiayai putra-putrinya dengan rezeki yang halal. Kalau begini adanya, insyaAllah lulusannya shalih shalihah semua.

Tak sedikit pula anak yang disekolahkan pada sekolah favorit, biaya mahal, ikut les berbayar tinggi, tetapi anaknya tetap suka mengecoh ayah ibunya. Pacaran sana sini, merokok, terkadang ikut-ikutan menenggak miras. Anak gadis kuliah mahal-mahal, baru semester 5 pulang-pulang buncit (hamil). Kuliah tak selesai, orangtua menanggung malu. Keadaan seperti ini tidak boleh serta merta menyalahkan si anak, tetapi evaluasilah diri kita sebagai orangtua. Sudahkah kita memberinya makan dan minum dari rezeki yang halal saja? Membiayainya dengan rezeki yang halal?

Ketahuilah oleh kita semua, bahwa tak ada keinginan yang terijabah tatkala yang berkeinginan masih bergelimang harta haram. Kecuali Allah tengah memainkan istidraj (Azab berupa nikmat). Tak ada do’a yang terkabulkan ketika yang berdo’a masih berlumuran rezeki haram. Melainkan Gusti Allah tengah memainkan istidraj. Keinginan mendapatkan anak yang shalih shalihah tak bisa didapatkan dengan jalan yang haram.

Rasulullah Saw menceritakan perihal seorang lelaki yang sedang melakukan safar (perjalanan jauh), yang berambut kusut, kusam dan berdebu, yang menadahkan tangan ke langit lalu berdoa: “Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!… Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dia dikenyangkan dengan makanan yang haram, maka bagaimana bisa doa dikabulkan?” [HR. Muslim]

Selanjutnya. Menjadi sia-sia sebuah niat baik, perbuatan baik, jika masih diiringi oleh harta yang haram. Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: “...Barang siapa yang mengumpulkan harta dari jalan yang haram, kemudian dia menyedekahkan harta itu, maka sama sekali dia tidak akan memperoleh pahala, bahkan dosa akan menimpanya.”  [HR. Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibbân dalam Shahihnya]

Seorang waliyullah, Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah ta’ala berkata,”Barangsiapa yang menginfakkan (harta) yang haram dalam ketaatan (kepada Allah), maka dia seperti orang yang membersihkan (mencuci) pakaian dengan air kencing, padahal pakaian tidak dapat dibersihkan kecuali dengan air (yang bersih dan suci), (sebagaimana) dosa tidak dihapuskan kecuali dengan (harta) yang halal”[ Dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam al-Kabir hlm.118].

 Kesimpulannya, agar anak kita shalih dan shalihah maka besarkanlah mereka dengan rezeki yang halal. Didiklah mereka dengan rezeki yang halal. Wallahu alam bisshowab!

(Ditulis oleh: Ust Baba Ali M.ChN, Pengasuh SAMARA CENTER, Penulis Buku Harmonis di Dunia Bersama di Surga)

Saturday, July 22, 2017

Wahai Suami, Perintahkan Anak Istrimu Mendirikan Shalat!



___Agama runtuh dalam diri seseorang yang tidak shalat. Tidak beragama orang yang tidak mendirikan shalat___

Sebagai kepala rumah tangga, suami adalah pemimpin bagi anak istrinya. Kepemimpinannya menentukan citra dan kualitas mahligai rumah tangga yang dibangunnya. Keluarga yang terbentuk tak lepas dari kapabilitas dirinya sebagai seorang suami. Berhubungan dengan kapabilitas tersebut, seorang suami bukan hanya penanggungjawab nafkah tetapi juga seorang leader (pemimpin), ustadz (guru), pelindung, dan teladan dalam keluarga. Tugas yang berat, dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di sisi Allah SWT.

Rasulullah Saw bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan ditanyai tentang kepemimpinannya.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Hal utama yang akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah SWT oleh para suami adalah yang berhubungan dengan shalat. Apa itu? Ialah sudahkah ia (suami) memerintahkan anak istrinya mendirikan shalat. Mulai dari mengajari mereka shalat yang betul, memiliki kesadaran akan keutamaan shalat, ghirah (semangat) menjaga shalat, dan menerapkan nilai-nilai shalat dalam tingkah laku keseharian. Ini tugas seorang kepala keluarga, tugas utama yang tidak bisa diwakilkan apalagi ditunda.

Allah SWT berfirman, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [Thaha/20:132]

Memang tidak mudah, butuh kesabaran berlipat-lipat. Perlu kegigihan yang berlapis-lapis dalam menunaikannya. Walaupun demikian, tetap tidak ada rukhsah (keringanan) dalam hal perintah mendirikan shalat ini. Ini menjadi isyarat bahwa keluarga wajib diisi oleh orang-orang yang mendirikan agama. Agama runtuh dalam diri seseorang yang tidak shalat. Tidak beragama orang yang tidak mendirikan shalat.

Rasulullah bersabda, “Shalat adalah tiang agama. Barang siapa yang menegakkan shalat, maka berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkan shalat berarti ia merobohkan agama.” (HR. Bukhari Muslim)

MasyaAllah, sudah terang benderang dalam benak kita bahwa urusan shalat adalah perkara nomor satu dalam hidup ini. Dalam hal ini, banyak ulama salafusshalih bersepakat bahwa manusia hidup di dunia ini hanyalah untuk dua hal saja. Dua hal itu yakni menunggu waktu shalat, dan menunggu waktu dishalatkan.

Terakhir, dari Abdullah bin Amru bin Ash ra, bahwasanya Nabi Saw pernah besabda:

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melakukan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka saat mereka berumur sepuluh tahun jika mereka meninggalkannya, serta pisahkan mereka (antara laki dan perempuan) ditempat tidur.” (HR. Imam Ahmad (no. 6756 ), Abu Daud, no. 495; Hâkim ( 1/311), dan dishahihkan oleh imam al-AlBâni dalam Shahîhul Jâmi’, no. 5868)
Wallahu alam bisshowab!

(Ditulis oleh Ust Baba Ali M.ChN, Pengasuh SAMARA CENTER, Pakar Ketahanan Keluarga)


Friday, July 21, 2017

10 Nasehat Bijak Ketahanan Keluarga (Edisi 3)

10 Nasehat Bijak Ketahanan Keluarga yang sering disampaikan oleh Pakar Ketahanan Keluarga, Baba Ali M.ChN adalah sebagai berikut:

1]  "Cinta itu manis saat dimulai, tetapi lebih manis lagi tatkala tidak pernah usai." 

2]  "Berkeluarga itu adalah tentang cinta, mimpi, air mata, tawa, suka, duka, yg bercampur menjadi satu. Terasa indah tatkala dijalani dengan bismillah."

3]  "Ikatan cinta suami istri mengalahkan ikatan semu dalam kejemuan."

4]  "Banyak wanita menderita dalam mahligai pernikahannya bukan karena tidak dicintai, tapi dicintai dengan cara yang keliru."

5]  "Bukankah kebahagiaan itu tatkala bisa membahagiakan orang yang kita cintai? So, berbenahlah untuk cinta yang indah."

6]  "Cara terbaik untuk dicintai adalah dengan mencintai."

7]   "Titah dari langit tidak turun kepada jiwa yang rendah."

8]  "Tatkala seorang hamba mensyukuri hidupnya, maka sungguh ia tengah meneguk kehidupan yang manis, indah, dan menyenangkan."

9]  "Tak ada yang lebih menggebu, selain dada yang yang tumpah dengan rasa rindu."

10]  "Kebahagiaan itu diperjuangkan bukan dibuang."

NB: Silahkan share sebanyak mungkin dengan mencantumkan nama beliau, Baba Ali M.ChN.

Supported by



10 Nasehat Bijak Ketahanan Keluarga (Edisi 2)

10 Nasehat Bijak Ketahanan Keluarga yang sering disampaikan oleh Pakar Ketahanan Keluarga, Baba Ali M.ChN adalah sebagai berikut:

1]  " Tatkala cinta telah bertakhta, aku lebih mengenal satu kata. Itulah keluarga."

2]  "Kebahagiaan seorang suami tergantung pada tabiat istrinya. Istri yang baik, menjadikan suaminya bahagia. Sementara istri yang berperangai buruk, membuat suaminya terpuruk.

3]  "Cara terbaik dalam mewujudkan keluarga yang akur adalah dengan senantiasa bersyukur. Suami yang bersyukur, istrinya mujur. Istri yang bersyukur, suaminya makmur. Sebaliknya,Suami yang kufur, istrinya babak belur. Istri yang kufur, suaminya kabur.

4]  "Janganlah engkau menabur harapan di hati seorang wanita yang bukan istrimu. Sebab, bila tak kau penuhi, harapan bisa menjadi racun baginya."

5]  "Semakin baik pemahaman keilmuan seseorang, semakin sederhana penampilannya dan tutur bahasanya."

6]  "Siapa yang bersemayam cinta di hatinya, maka tak ada gunung yang tinggi dan tak ada samudera yang dalam. Tapi itu susah, jikalau syahwat masih dijadikan teman berkhalwat."

7]  "Hidup itu tergantung orientasi. Jika orientasinya dunia, sekilas dunianya terlihat menyenangkan. Kalau orientasinya akhirat, sekilas dunianya terlihat tidak membanggakan.Tapi lagi lagi , life is choice. Wa lal aakhiratu khairullaka minal uula."

8]  "Berapakah harga sebuah kebahagiaan ? "Dunia dan seisinya pun tak kan mampu mengantikannya

9]  "Kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana hidup enak, hingga lupa mempersiapkan mati yang enak."

10]  "Amal dan dosa itu tergantung orientasi hidup.Orang kalau orientasinya dunia, ia tidak peduli dengan amal dan tidak takut berbuat dosa. Sebaliknya, bila akhirat orientasi hidupnya, maka amal dan dosa menjadi patokan hidupnya."

NB: Silahkan share sebanyak mungkin dengan mencantumkan nama beliau, Baba Ali M.ChN.

Presented by




10 Nasehat Bijak Ketahanan Keluarga (Edisi 1)


 10 Nasehat Bijak Ketahanan Keluarga yang sering disampaikan oleh Pakar Ketahanan Keluarga, Baba Ali M.ChN adalah sebagai berikut:

1] "Pasangan yang bersyukur, hidupnya senantiasa akur."

2] "Selama kalian setia, mantan hanya sebatas menggoda."

3] "Menikahlah dan saling mencintailah karena keluhuran budi, dan kebaikan agama pasanganmu. Seiring bertambahnya usia, dua hal itu pun semakin bernilai, bernilai, dan bernilai."

4] "Sesekali memasaklah, biar engkau bisa menghargai setiap masakan istrimu. Agar engkau paham arti cinta dalam setiap tetes keringatnya."

5] "Sebaik apapun mantanmu, tetap lebih baik istrimu. Maka cintailah dia sepenuh jiwa."

6]  "Suami yang bersabar atas kelabilan emosi dan kekanak-kanakan istrinya, itulah lelaki yang kuat. Berterimakasihlah padanya, duhai para istri."

7]   "Kebahagiaan seorang istri tergantung pada kedewasaan suaminya. Suami yang dewasa bijak mengelolah hati, keinginan, dan tabiat istrinya."

8]  "Sebuah hubungan suci yang diawali dengan cara yang salah, dominan bermasalah."

9]  "Cinta mengandung tiga elemen kebaikan yakni keindahan, kesucian, dan energi. Tanpa ketiga hal ini, maka yang engkau namakan cinta selama ini adalah syahwat belaka."

10]  "Kurangnya kesabaran adalah awal banyaknya keributan dalam rumah tangga."

NB: Silahkan share sebanyak mungkin dengan mencantumkan nama beliau, Baba Ali M.ChN.

Supported by


Saturday, June 10, 2017

Renungan Untuk Negeri Sepenggal Firdaus

Saya bukan politisi, tetapi seorang praktisi. Sejenak mengkaji nasib negeri, rasanya begitu ngeri.

Oh Tuhan, kenapa negeri sepenggal firdaus ini semakin tak jelas seperti ini? Rakyat kecil kian terbebani. Penguasanya memeras hati. Hukum terjerat dalam lilitan materi. Keadilan sudah pergi.

Oh Tuhan, hanya engkau yang mengerti. Cucuran keringat kami, demi sesuap nasi. Gelisahnya hidup kami, atas ketidakpastian nasib esok pagi. PHK menghantui sepanjang hari. Usaha rumahan sekarat antara hidup dan mati. Laporan SPT tetap wajib diisi. Penulis apalagi, royalti yang secuil saja masih dipajaki.

Oh Tuhan, hutang ribuan triliyun sedang membelit negeri kami. Sumber Daya Alam kami pun kini tengah tergadai di luar negeri.

Oh Tuhan, jangan restui kami menjadi jongos di negeri sendiri. Dengan keperkasaanMu, balikanlah keadaan ini. Selamatkan negeri kami.

Indonesia, 10/06-2017
Baba Ali

Tuesday, June 6, 2017

Merengkuh Cinta Dalam Buaian Ramadhan

Tatkala kau selami dalamnya hikmah berpuasa, sesungguhnya ramadhan ini adalah fasilitas pengokohan cinta dari Allah SWT.

Di dalamnya, terdapat cinta yang mengajarkan kesabaran dalam menyikapi kelabilan emosi kekasihmu.

Di dalamnya, terdapat cinta yang menuntunmu pandai bersyukur atas anugerah Allah yang bernama kekasih, hingga engkau menerima kelebihan dan kekurangannya. Sakinah bersamanya.

Di dalamnya, kau dapati sebongkah cinta yang menjadi gizi pernikahan kalian sehingga harmonis dan bahagia.

Cinta teramat berharga untuk dilupakan walau sekejap saja. Mari menggenggam cinta dalam jamuan kemuliaan bulan ramadhan.

(Ditulis oleh : Baba Ali M.ChN, Pakar Ketahanan Keluarga, Pengasuh Samara Center)

Wednesday, May 10, 2017

Tatkala Pasangan Tak Seindah yang Dibayangkan

Di depan kaca, dengan wajah sumringah Imron bin Hiton memeluk istrinya dari belakang. Tawa geli, cumbuan, rayuan indah, mewarnai kebahagiaan mereka berdua di pagi itu. Ia (generasi tabi'in) itu bertutur kepada istrinya, "Cantiknya dikau pagi ini duhai belahan jiwaku."

Istrinya berkata, "InsyaAllah kita masuk surga suamiku."

"Apa yang membuatmu sebegitu yakin, Kekasihku?" Tanya Imron berbunga-bunga.

Istrinya menjawab, "InsyaAllah kita masuk surga, sebab engkau bersyukur atas diriku, dan aku bersabar atas dirimu."

Bukan tanpa alasan, istri Imron bin hiton berkata demikian. Dalam beberapa atsar dikatakan bahwa istri salafusshalih tersebut adalah wanita shalihah di jamannya. Berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya. Berilmu tinggi. Dan, terkenal kecantikannya.

Sementara Imron bin hiton adalah kebalikannya. Rupanya buruk, fakir, dari keluarga biasa, namun shalih.

Seranting lebih hebat dari cerita di atas adalah kisahnya Fatimah Azzahra ra dengan Ali bin Abi Thalib ra. 

Malam itu, malam pertama bagi sang pengantin baru. Fatimah berkata, ”Duhai kekasihku, tahukah kamu bahwa sebelumnya aku pernah mencintai seorang lelaki?” Ali terdiam kaku. Fatimah melanjutkan,”Aku sangat mengaguminya, dan diam-diam jatuh hati padanya. Ia mengisi relung jiwaku bertahun-tahun, sebab keluhuran budinya, ketangguhannya di medan perang, dan kecerdasannya kian membuatku tak berdaya.” Dengan muka memerah, gagap, tertunduk, Ali berkata,”Kenapa engkau tidak menikah dengannya saja? Mudah bagimu untuk mendapatkannya, duhai putri kesayangan Nabi?” Fatimah melanjutkan, “Lelaki itu adalah kau kekasihku.” Ali terperanjat bahagia. Mereka hidup bahagia hingga maut datang mengakhirinya.

Cuaca yang buruk menyelimuti perkisahan cinta Siti Asiyah. Semenjak sang suami, Pangeran Ramses II dinobatkan sebagai pelanjut tahta Fir'aun (pharaoh/raja), rumah tangganya mulai kelam dari kebahagiaan. Kepongahan menguasai fir'aun muda itu. Gundik, judi, miras, hingga pembunuhan bayi. Terlebih parah, saat fir'aun memproklamirkan diri sebagai Tuhan. 

Siti Asiyah tak henti hentinya mentarbiyah suaminya, hingga ia wafat di tangan fir'aun yang zhalim.

Ketiga model pasangan tersebut adalah corak solusi yang baik dalam menyikapi tatkala pasangan tak seindah yang dibayangkan.

Istri Imron bin Hitom menjewel para istri untuk banyak bersabar. Bersabar atas kekurangan, dan kejahilan suami. Meniatkan sabar semoga menjadi washilah meraih jannahNya.

Putri kesayangan Rasulullah Fatimah Azzahra seakan tidak pernah melihat kekurangan dari suaminya Ali bin Abi Thalib. Rasa syukur yang menggunung. Ia memahami makna tertinggi dari syukur yakni hanya melihat kebaikan saja. Fokusnya pada kebaikan suami saja.

Jikalau sekiranya Fatimah adalah wanita kebanyakan, maka tentu yang nampak dari seorang Ali hanyalah sosok lelaki yang kurang beruntung. Sudah hitam jelek, miskin pula.

Si wanita tangguh Siti Asiyah memberi contoh bagaimana mendakwahi suami tak kenal henti. Cinta membuat ia tak rela sang suami bergelimang lumpur kekufuran. Tak ada yang bisa menghalanginya, bahkan siksaan dari suaminya sendiri tak membuat ia berhenti. Hanya kematianlah yang menyudahi dakwahnya. 

Sebaiknya, jewelan sayang Siti Aisyah ini menjadi renungan berharga bagi para istri. Jangan biarkan suami larut dalam kekufuran. 

Tak sedikit istri jaman sekarang, malah mendiamkan suaminya berbuat curang, riba, dan lainnya. 

Terakhir, syukurilah setiap kebaikan pasangan. Bersabarlah atas hal-hal yang tidak engkau senangi dari dirinya. Senantiasa belajar, agar bisa membahagiakan satu sama lain.

Berhentilah menuntut ini dan itu. Itu sangat menyiksa baginya. Jangan lakukan sesuatu yang dibencinya, sebab engkau pun pasti menolak hal hal yang engkau benci. Berbahagialah!!!

(Ditulis oleh: Baba Ali M.ChN, Pakar Ketahanan Keluarga, Pengasuh Samara Center)

Saturday, April 29, 2017

Mari kampanyekan Keluarga Bahagia

Dalam kitab ihya' ulumuddin, karya Imam al Ghazali dikatakan bahwa kekayaan sejati adalah kebahagiaan hidup.

Menurut hemat saya, Itulah sebabnya kenapa Allah ajarkan hambaNya do'a "Rabbana aatina fid dunya haasanah waa fil aakhirah haasanah, waaqina 'azaabannaar."

Allah tidak ajarkan kita do'a meraih kekuasaan, harta berlimpah, dan ketenaran, sebab itu semua tidak mampu membawa ketenangan hidup, kedamaian, dan keselamatan bagi manusia itu sendiri.

Di samping itu, harta tahta dan ketenaran sudah menjadi ketetapanNya. IA akan memberikan semua itu kepada orang orang yang dikehendakiNya sebagai ujian.

Ujian yang akan memilah antara hambaNya yang terbaik dengan hambaNya yang kufur kepadaNya.

Dia Maha Tahu yang terbaik bagi hambaNya, sehingga ia ajarkan do'a terbaik pula, yakni do'a memohon kebahagiaan. Atau kita mengenalnya dengan do'a sapu jagad.

Dalam hal ini, keluarga menjadi taman bertumbuhnya kebahagiaan itu dalam ketaatan kepadaNya.

Selanjutnya, kesuksesan adalah sebesar-besarnya kemanfaatan yang diberikan kepada alam semesta, dengan itu menjadi asbab Allah ridha pada kita dan melayakkan kita sebagai penghuni surgaNya.

Rasulullah Saw bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi yang lain." (HR. Muslim)

Senada dengan ini, Imam Syafi'i berkata, "Kesuksesan itu adalah tatkala kakimu telah menginjak tanah surga."

Dalam hal ini, keluarga menjadi sebaik baiknya wadah distribusi kebaikan itu sendiri.

Sahabat, mari bangun keluarga bahagia yang berpondasikan ketundukan padaNya. Harmonis di dunia, bersama di surga.

Wallahu alam bisshowab!

(Ditulis oleh Ustd Baba Ali M.ChN, Pakar Ketahanan Keluarga, dan Pengasuh Samara Center)

Tuesday, April 25, 2017

Harmonis di Dunia Bersama di Surga

Buku Harmonis di Dunia Bersama di Surga (HDBS):
Ini Penulisnya:

Sahabat HDBS (sample):












Presented by: